I. PENGUASAAN DATA
Mbah Maridjan lahir, hidup, dan meninggal di kawasan gunung berapi. Ia menguasai betul data tentang gunung Merapi; bahkan, bisa jadi, datanya tentang gunung Merapi sangat obyektif. Sekalipun demikian, tidak menjadikannya sebagai vulkanolog, kecuali sebagai “kuncen”. Mengapa? Pengetahuannya yang berdasarkan hasil pengamatan didasarkan pada “paradigma” tertentu. Bagi kalangan komunitas ilmiah dan mendasarkan diri pada paradigma ilmu, maka paradigma yang digunakan Mbah Maridjan termasuk ke dalam paradigma non-science, sekurangnya pseudo-sceince. Bagi komunitas ilmiah, data yang obyektif saja tidak cukup, tetapi juga harus valid dan reliable.
II. PENGUASAAN TEORI
Mengapa gunung meletus? Mbah Maridjan akan menjelaskannya berdasarkan penjelasan-penjelasan supranatural atau kekuatan-kekuatan yang bersifat niskala, misalnya “Eyang Merapen sedang murka”. Sekali waktu, iapun menjelaskannya karena “ketamakan manusia”. Bagi kalangan ilmuwan, konsep-konsep yang digunakannya dalam mengkonstruks sebuah “teori” sulit diukur. Hal ini menyulitkan peneliti lain untuk melakukan replikasi atas “penelitian” yang telah dilakukan beliau.
III. PENGUASAAN METODOLOGI
Apa langkah-langkah yang dilakukannya untuk mengetahui sebab-musabab terjadinya letusan Gunung Merapi? Ia tidak menggunakan prosedur ilmiah, karena sumber data sulit dilacak, konsep-konsepnya sulit operasionalisasikan, teknik pengumpulan datanya pun tidak dapat ditiru dan diulangi oleh wong kebanyakan, termasuk pula analisisnya.
IV. KOMPETENSI “PEGIAT ILMU”
Komptensi dasar dari seorang “pegiat ilmu” adalah: penguasaan data, penguasaan teori, dan penguasaan metodologi.
V. PENDIDIK AGAMA ISLAM, SEKALIGUS PEGIAT ILMU
Status guru tidak serta merta menjadikannya sekaligus sebagai “pegiat ilmu” dalam disiplin ilmu pendidikan. Guru adalah praktisi dalam bidang pendidikan. Sebagai praktisi, guru sangat akrab dengan dunia pendidikan, seperti halnya Mbah Maridjan akrab dengan dunia kegunungapian. Sejak kecil sudah mengikuti pendidikan, hidup dari dunia pendidikan, mendidik anak, dan seterusnya. Sekalipun demikian, pengetahuan guru tentang pendidikan tidak selalu bersifat obyektif, valid, dan reliable, karena tidak didasarkan pada teori-teori dalam ilmu pendidikan yang baku (dari tahapan grand theory hingga unique theory); serta tidak memanfaatkan metodologi penelitian pendidikan dengan berbagai ciri khususnya. Agar guru menjadi seorang praktisi, sekaligus pegiat ilmu, maka ia dituntut untuk menguasai data, teori, dan metodologi ilmiah yang disepakati dalam disiplin ilmu pendidikan.
VI. HUBUNGAN ANTARKOMPETENSI
Hubungan antar kompetensi tersebut tampak dari prosedur penelitian ilmiah. Lihat gambar. Jika benar, sekalipun pendidik mengenal betul gejala pendidikan, namun belum tentu dapat mengidentifikasinya sebagai masalah penelitian. Untuk dapat mengidentifikasi masalah, selain berdasarkan pengalaman, juga perlu menguasai teori-teori pendidikan. Kalaupun sudah diidentifikasi, peneliti pendidikan perlu menyeleksinya dilihat dari segi ketertarikan, signifikasi, ketersediaan teori, serta ketersediaan biaya, tenaga, atau waktu. Langkah berikutnya, adalah melakukan studi kepustakaan untuk kepentingan penyusunan teori dan hipotesis. Pembuktian hipotesis dilakukan dengan riset disain yang tepat. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan data yang obyektif, valid, dan reliabel terkait masalah yang sedang ditelitinya, sebagai landasan penyimpulan atau pembuktian hipotesis yang diajukannya.
Yang perlu dicatat, kebenaran ilmu bersifat relatif (nisbi), sehingga kesimpulan yang diperoleh bukan kesimpulan final. p Dengan demikian, prosedur penelitian merupakan sebuah proses yang tidak pernah selesai. Khazanah ilmu pendidikan, merupakan hasil kumulasi dari berbagai hasil penelitian.
VII. Simpulan
Pendidik Agama Islam akan sekaligus berperan sebagai “pegiat ilmu” dalam bidangnya, jika menguasai data, teori, dan metodologi pendidikan. Berikutnya, mereka dituntut untuk terlatih dalam melaksanakan prosedur penelitian ilmiah.
(Disampaikan pada Orientasi Mahasiswa S2, Konsentrasi Pendidikan Agama Islam, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 29 Oktober 2010)
Minggu, 31 Oktober 2010
Senin, 18 Oktober 2010
SEJARAH, PARADIGMA, DAN TEORI SOSIOLOGI
1. SEJARAH AWAL PERKEMBANGAN TEORI SOSIOLOGIS
Perkembangan teori sosiologi dipengaruhi dua kekuatan besar, yaitu kekuatan sosial dan kekuatan intelektual. Kekuatan sosial yang menentukan perkembangan teori dalam sosiologi antara lain:
a. Revolusi-revolusi politik
Sejumlah revolusi yang berakhir dengan Revolusi Perancis pada tahun 1789 telah menimbulkan berbagai dampak sosial, baik positif maupun negatif. Para teoritisi sosial lebih tertarik pada dampak negatif dari revolusi-revolusi politik tersebut, seperti kekacauan dan ketidaktertiban sosial. Isu ketertiban sosial menjadi perhatian utama para teoritisi sosiologis klasik, seperti Comte dan Durkheim.
b. Revolusi industrial dan kebangkitan kapitalisme
Revolusi industri dan kapitalisme telah menyebabkan pergolakan sosial pada masyarakat Barat, yang mengusik perhatian para teoritisi sosial semisal Karl Marx, Max Weber, Emile Durkheim, dan George Simmel. Mereka menghabiskan masa hidupnya dengan mempelajari masalah-masalah sosial, dan dalam banyak kasus mereka pun mengembangkan program-program untuk memecahkan masalah sosial tadi.
c. Kebangkitan sosialisme
Salah satu alternatif dalam memecahkan dampak merugikan dari revolusi industrial dan kapitalisme ini adalah sosialisme. Karl Marx merupakan pelopor utama yang berusaha menggulingkan sistem kapitalisme. Sekalipun ia tidak mengembangkan teori sosialisme dalam arti sebenarnya, namun ia banyak mengkritik berbagai aspek masyarakat kapitalis. Bahkan, ia terlibat dalam berbagai kegiatan politik yang diharapkan dapat membangkitkan masyarakat sosialis.
d. Urbanisasi
Sebagian dampak dari revolusi industri adalah sejumlah penduduk tercerabut dari akar budaya pedesaaan mereka dan melakukan perpindahan ke eilayah perkotaan yang menjadi kawasan industri. Hal ini telah menyebabkan persoalan sosial, terutama penyesuaian mereka dengan lingkungan sosial budaya industri-modern. Realitas dan masalah kehidupan perkotaan telah menarik teoritisi sosial semisal Marx Weber dan George Simmel.
e. Perubahan kehidupan keagamaan
Perubahan-perubahan sosial akibat revolusi politik, revolusi industri, dan urbanisasi telah berdampak mendalam terhadap kehidupan keagamaan. Banyak sosiolog awal memiliki latar belakang keagamaan yang kuat; dan, dalam banyak kasus, terlibat dalam kegiatan keagamaan. Comte, Durkhein, dan Marx telah menjelaskan kehidupan keagamaan dengan sikap yang berbeda.
f. Pertumbuhan ilmu
Teori sosiologis dikembangkan dengan menekankan aspek keilmuannya. Produk-produk teknologis berdasarkan ilmu telah mengubah kehiduan sosial. Ilmu memiliki prestise yang tinggi. Semua itu berkaitan dengan keberhasilan ilmu alam. Sosiolog (terutama Comte dan Durkheim) sejak awal menjadikan ilmu alam sebagai model bagi ilmu sosial.
2. Kekuatan intelektual:
a. Abad Pencerahan dan Penemuan Sosiologi di Perancis
1) August Comte (1789-1857) terganggu oleh anarki yang terjadi dalam masyarakat dan bersikap kritis terhadap para pemikir Perancis yang telah mendorong Pencerahan serta memicu sejumlah revolusi. Ia mengembangkan pandangan ilmiah, positivisme, untuk memerangi dampak negatif dari filsafat Pencerahan.
2) Emile Durkheim (1858-1917) tidak hanya melihat sisi negatif Pencerahan, tetapi juga sisi positifnya. Hal ini berpengaruh pada penekanannya atas ilmu dan reformism. Sekalipun ia memiliki sikap liberal secara politis, namun sikap intelektualnya konservatif.
b. Perkembangan sosiologi di Jerman
1) Karl Marx (1818-1883) tidak khawatir dengan ketidaktertiban akibat Pencerahan, Revolusi Perancis, atau Revolusi Industri, tetapi tertarik dengan sifat menindas dari sistem kapitalisme yang tumbuh melalui Revolusi Industri. Marx berkeinginan untuk mengembangkan sebuah teori yang menjelaskan sifat menindas ini dan berusaha menggulingkan sistem tersebut.
2) Max Weber (1864-1920) menganggap pendapat Marx dan pengikutnya terlalu menekankan faktor ekonomi sebagai satu-satunya penentu kehidupan sosial. Padahal, menurut Weber, kehidupan ekonomi justru dipengaruhi oleh gagasan keagamaan.
3) George Simmel berbeda dengan Marx dan Weber yang tertarik dengan kehidupan sosial dalam skala luas. Ia lebih tertarik dengan isu-isu sosial pada skala yang lebih kecil, terutama tindakan dan interaksi antar individu. Ia terkenal karena pemikirannya tentang bentuk-bentuk dan jenis-jenis interaksi yang menjadi wilayah kajian utama sosiologi.
c. Asal-usul sosiologi di Inggris
Herbert Spencer (1820-1903) merupakan salah seorang penganut teori evolusi. Namun, ia berbeda dengan Comte. Ia menolah hukum tiga tahapan yang dikemukakan Comte (Teologi, Metafisik, dan Positiv). Alasannya, Comte menekankan pada evolusi gagasan, sedangkan ia menekankan evolusi dari dunia nyata dan material.
d. Tokoh-tokoh sosiologi di Italia
1) Vilpredo Pareto (1848-1923) menolak gagasan Marx dan juga para pemikir abad Pencerahan. Jika para pemikir abad Pencerahan menekankan pada faktor rasionalitas, maka ia menekankan pada faktor irasionalitas, seperti insting. Jika Marx menekankan pada peran massa, maka ia menekankan peran elit dalam perubahan sosial.
2) Gaetano Mosca (1858-1941) sama halnya dengan Pareto yang mengembangkan teori elit.
e. Perkembangan Masrxisme Eropa pada awal abad kedua puluh
Jika para sosiolog abad kesembilan belas mengembangkan teori-teori mereka dalam menentang pandang Marx, yang secara simultan menjadi usaha sejumlah pengikut Marx untuk mengukuhkan pandangan Marx. Antara tahun 1875 sampai 1925, tumpang-tindih antara Marxisme dengan sosiologi semakin berkurang.
B. PARADIGMA SOSIOLOGIS
Mengapa perilaku sosial terjadi? Terdapat Berbagai jawaban untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan di atas. Terdapat tiga paradigma sosiologi terpenting untuk menjawab pertanyaan tersebut, yaitu:
1. Paradigma Fakta Sosial.
Model utama bagi para penganut paradigma fakta sosial adalah karya Emile Durkheim, The Rules of Sociological Methods dan Suicide. Dengan model ini, mereka memusatkan perhatian pada fakta sosial atau struktur dan institusi sosial dalam skala luas. Mereka menempatkan fakta sosial sebagai variabel penjelas bagi pemikiran dan tindakan sosial. Metode yang digunakan dalam meneliti pengaruh fakta sosial terhadap perilaku sosial adalah interview dan kuestioner serta perbandingan sejarah.
2. Paradigma Definisi Sosial
Model utama bagi para penganut paradigma definisi sosial karya Max Weber, the Protestant Ethics and the Spirit of Capitalism. Model ini mengarahkan mereka untuk memusatkan perhatian pada cara para pelaku mendefinisikan situasi sosial yang mereka hadapi, sehingga berdampak pada tindakan dan interaksi sosial. Sekalipun menggunakan metode interview dan kuestioner, namun mereka lebih banyak menggunakan metode pengamatan, sehingga merupakan metodologi yang khas dalam paradigma ini.
3. Paradigma Perilaku Sosial
Model terpenting dari para penganut paradigma perilaku sosial adalah karya B. F. Skinner. Dengan mendasarkan diri pada model ini, mereka menjadikan memusatkan perhatian pada perilaku spontan yang dilakukan oleh individu atau kelompok berdasarkan skema ganjaran-hukuman atau untung-rugi, sehingga mendorong perilaku tertentu. Metodologi yang dikembangkan oleh para penganut paradigma perilaku sosial adalah eksperimen.
C. TEORI-TEORI DALAM SOSIOLOGI
Setiap paradigma mencakup beberapa perspektif teoritis.
1. Paradigma fakta sosial mencakup perspektif: teori structural fungsional, teori konflik, dan teori sistem. Para teoritis struktural fungsional cenderung menggunakan fakta sosial sebagai sesuatu yang saling berhubungan dan tertata secara tertib yang dipertahankan melalui konsensus umum. Teoritisi konflik menekankan pada ketidakteriban dari berbagai fakta sosial dan pandangan bahwa ketertiban hanya dipertahankan melalui kekuatan memaksa dalam masyarakat. Sekalipun teori struktural fungsional dan teori konflik sangat dominan dalam paradigma ini, namun masih ada teori lainnya, yaitu teori sistem.
2. Terdapat banyak teori yang dapat dimasukkan ke dalam teori definisi sosial, antara lain teori tindakan, interaksionisme sombolik, fenomenologi, etnometodologi, dan eksistensialisme.
3. Dua perspektif dalam sosiologi yang biasa dimasukkan ke dalam paradigma perilaku sosial adalah sosiologi perilaku dan teori pertukaran sosial.
Sumber:
Disarikan dari George Ritzer, Sociological Theory, NY: McGraw-Hill, 1992
Perkembangan teori sosiologi dipengaruhi dua kekuatan besar, yaitu kekuatan sosial dan kekuatan intelektual. Kekuatan sosial yang menentukan perkembangan teori dalam sosiologi antara lain:
a. Revolusi-revolusi politik
Sejumlah revolusi yang berakhir dengan Revolusi Perancis pada tahun 1789 telah menimbulkan berbagai dampak sosial, baik positif maupun negatif. Para teoritisi sosial lebih tertarik pada dampak negatif dari revolusi-revolusi politik tersebut, seperti kekacauan dan ketidaktertiban sosial. Isu ketertiban sosial menjadi perhatian utama para teoritisi sosiologis klasik, seperti Comte dan Durkheim.
b. Revolusi industrial dan kebangkitan kapitalisme
Revolusi industri dan kapitalisme telah menyebabkan pergolakan sosial pada masyarakat Barat, yang mengusik perhatian para teoritisi sosial semisal Karl Marx, Max Weber, Emile Durkheim, dan George Simmel. Mereka menghabiskan masa hidupnya dengan mempelajari masalah-masalah sosial, dan dalam banyak kasus mereka pun mengembangkan program-program untuk memecahkan masalah sosial tadi.
c. Kebangkitan sosialisme
Salah satu alternatif dalam memecahkan dampak merugikan dari revolusi industrial dan kapitalisme ini adalah sosialisme. Karl Marx merupakan pelopor utama yang berusaha menggulingkan sistem kapitalisme. Sekalipun ia tidak mengembangkan teori sosialisme dalam arti sebenarnya, namun ia banyak mengkritik berbagai aspek masyarakat kapitalis. Bahkan, ia terlibat dalam berbagai kegiatan politik yang diharapkan dapat membangkitkan masyarakat sosialis.
d. Urbanisasi
Sebagian dampak dari revolusi industri adalah sejumlah penduduk tercerabut dari akar budaya pedesaaan mereka dan melakukan perpindahan ke eilayah perkotaan yang menjadi kawasan industri. Hal ini telah menyebabkan persoalan sosial, terutama penyesuaian mereka dengan lingkungan sosial budaya industri-modern. Realitas dan masalah kehidupan perkotaan telah menarik teoritisi sosial semisal Marx Weber dan George Simmel.
e. Perubahan kehidupan keagamaan
Perubahan-perubahan sosial akibat revolusi politik, revolusi industri, dan urbanisasi telah berdampak mendalam terhadap kehidupan keagamaan. Banyak sosiolog awal memiliki latar belakang keagamaan yang kuat; dan, dalam banyak kasus, terlibat dalam kegiatan keagamaan. Comte, Durkhein, dan Marx telah menjelaskan kehidupan keagamaan dengan sikap yang berbeda.
f. Pertumbuhan ilmu
Teori sosiologis dikembangkan dengan menekankan aspek keilmuannya. Produk-produk teknologis berdasarkan ilmu telah mengubah kehiduan sosial. Ilmu memiliki prestise yang tinggi. Semua itu berkaitan dengan keberhasilan ilmu alam. Sosiolog (terutama Comte dan Durkheim) sejak awal menjadikan ilmu alam sebagai model bagi ilmu sosial.
2. Kekuatan intelektual:
a. Abad Pencerahan dan Penemuan Sosiologi di Perancis
1) August Comte (1789-1857) terganggu oleh anarki yang terjadi dalam masyarakat dan bersikap kritis terhadap para pemikir Perancis yang telah mendorong Pencerahan serta memicu sejumlah revolusi. Ia mengembangkan pandangan ilmiah, positivisme, untuk memerangi dampak negatif dari filsafat Pencerahan.
2) Emile Durkheim (1858-1917) tidak hanya melihat sisi negatif Pencerahan, tetapi juga sisi positifnya. Hal ini berpengaruh pada penekanannya atas ilmu dan reformism. Sekalipun ia memiliki sikap liberal secara politis, namun sikap intelektualnya konservatif.
b. Perkembangan sosiologi di Jerman
1) Karl Marx (1818-1883) tidak khawatir dengan ketidaktertiban akibat Pencerahan, Revolusi Perancis, atau Revolusi Industri, tetapi tertarik dengan sifat menindas dari sistem kapitalisme yang tumbuh melalui Revolusi Industri. Marx berkeinginan untuk mengembangkan sebuah teori yang menjelaskan sifat menindas ini dan berusaha menggulingkan sistem tersebut.
2) Max Weber (1864-1920) menganggap pendapat Marx dan pengikutnya terlalu menekankan faktor ekonomi sebagai satu-satunya penentu kehidupan sosial. Padahal, menurut Weber, kehidupan ekonomi justru dipengaruhi oleh gagasan keagamaan.
3) George Simmel berbeda dengan Marx dan Weber yang tertarik dengan kehidupan sosial dalam skala luas. Ia lebih tertarik dengan isu-isu sosial pada skala yang lebih kecil, terutama tindakan dan interaksi antar individu. Ia terkenal karena pemikirannya tentang bentuk-bentuk dan jenis-jenis interaksi yang menjadi wilayah kajian utama sosiologi.
c. Asal-usul sosiologi di Inggris
Herbert Spencer (1820-1903) merupakan salah seorang penganut teori evolusi. Namun, ia berbeda dengan Comte. Ia menolah hukum tiga tahapan yang dikemukakan Comte (Teologi, Metafisik, dan Positiv). Alasannya, Comte menekankan pada evolusi gagasan, sedangkan ia menekankan evolusi dari dunia nyata dan material.
d. Tokoh-tokoh sosiologi di Italia
1) Vilpredo Pareto (1848-1923) menolak gagasan Marx dan juga para pemikir abad Pencerahan. Jika para pemikir abad Pencerahan menekankan pada faktor rasionalitas, maka ia menekankan pada faktor irasionalitas, seperti insting. Jika Marx menekankan pada peran massa, maka ia menekankan peran elit dalam perubahan sosial.
2) Gaetano Mosca (1858-1941) sama halnya dengan Pareto yang mengembangkan teori elit.
e. Perkembangan Masrxisme Eropa pada awal abad kedua puluh
Jika para sosiolog abad kesembilan belas mengembangkan teori-teori mereka dalam menentang pandang Marx, yang secara simultan menjadi usaha sejumlah pengikut Marx untuk mengukuhkan pandangan Marx. Antara tahun 1875 sampai 1925, tumpang-tindih antara Marxisme dengan sosiologi semakin berkurang.
B. PARADIGMA SOSIOLOGIS
Mengapa perilaku sosial terjadi? Terdapat Berbagai jawaban untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan di atas. Terdapat tiga paradigma sosiologi terpenting untuk menjawab pertanyaan tersebut, yaitu:
1. Paradigma Fakta Sosial.
Model utama bagi para penganut paradigma fakta sosial adalah karya Emile Durkheim, The Rules of Sociological Methods dan Suicide. Dengan model ini, mereka memusatkan perhatian pada fakta sosial atau struktur dan institusi sosial dalam skala luas. Mereka menempatkan fakta sosial sebagai variabel penjelas bagi pemikiran dan tindakan sosial. Metode yang digunakan dalam meneliti pengaruh fakta sosial terhadap perilaku sosial adalah interview dan kuestioner serta perbandingan sejarah.
2. Paradigma Definisi Sosial
Model utama bagi para penganut paradigma definisi sosial karya Max Weber, the Protestant Ethics and the Spirit of Capitalism. Model ini mengarahkan mereka untuk memusatkan perhatian pada cara para pelaku mendefinisikan situasi sosial yang mereka hadapi, sehingga berdampak pada tindakan dan interaksi sosial. Sekalipun menggunakan metode interview dan kuestioner, namun mereka lebih banyak menggunakan metode pengamatan, sehingga merupakan metodologi yang khas dalam paradigma ini.
3. Paradigma Perilaku Sosial
Model terpenting dari para penganut paradigma perilaku sosial adalah karya B. F. Skinner. Dengan mendasarkan diri pada model ini, mereka menjadikan memusatkan perhatian pada perilaku spontan yang dilakukan oleh individu atau kelompok berdasarkan skema ganjaran-hukuman atau untung-rugi, sehingga mendorong perilaku tertentu. Metodologi yang dikembangkan oleh para penganut paradigma perilaku sosial adalah eksperimen.
C. TEORI-TEORI DALAM SOSIOLOGI
Setiap paradigma mencakup beberapa perspektif teoritis.
1. Paradigma fakta sosial mencakup perspektif: teori structural fungsional, teori konflik, dan teori sistem. Para teoritis struktural fungsional cenderung menggunakan fakta sosial sebagai sesuatu yang saling berhubungan dan tertata secara tertib yang dipertahankan melalui konsensus umum. Teoritisi konflik menekankan pada ketidakteriban dari berbagai fakta sosial dan pandangan bahwa ketertiban hanya dipertahankan melalui kekuatan memaksa dalam masyarakat. Sekalipun teori struktural fungsional dan teori konflik sangat dominan dalam paradigma ini, namun masih ada teori lainnya, yaitu teori sistem.
2. Terdapat banyak teori yang dapat dimasukkan ke dalam teori definisi sosial, antara lain teori tindakan, interaksionisme sombolik, fenomenologi, etnometodologi, dan eksistensialisme.
3. Dua perspektif dalam sosiologi yang biasa dimasukkan ke dalam paradigma perilaku sosial adalah sosiologi perilaku dan teori pertukaran sosial.
Sumber:
Disarikan dari George Ritzer, Sociological Theory, NY: McGraw-Hill, 1992
Selasa, 16 Februari 2010
FILSAFAT SOSIAL: SOAL CAKUPAN
Filsafat Sosial (Social philosophy) berusaha menjajagi pertanyaan-pertanyaan filosofis sekitar isu-isu sosial dan perilaku sosial. Filsafat sosial berhubungan dengan subyek bahasan yang sangat luas. Contoh-contoh yang paling umum tentang subyek filsafat sosial antara lain “teori kontrak sosial”, “relativisme budaya”, dan “individualisme”.
Berbagai topik dalam filsafat sosial melintasi berbagai katagori filsafat, termasuk epistemologi, metafisika, filsafat politik, moralitas, dan sebagainya.
Tema-tema utama dalam filsafat sosial mencakup diri (self), entitas sosial, dan hubungan antara keduanya. Individualisme sering muncul dalam filsafat sosial, termasuk pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan pemisahan orang perseorangan dari masyarakat.
Filsafat sosial sering dicampurkan dengan sosiologi, antropologi kognitif, dan psikologi. Alasannya, karena bidang-bidang tersebut menyajikan penelitian dan percobaan atas hasil perenungan filosof sosial. Pembahasan atau teori tentang masyarakat seringkali mengandung unsur filsafat sosial, sekaligus unsur ilmu sosial.
Bagian-bagian utama filsafat sosial sering tumpang-tindih dengan filsafat politik, khususnya berkenaan dengan otoritas (kekuasaan), revolusi, kemakmuran, dan hak. Akan tetapi, filsafat sosial terutama berhubungan dengan bentuk-bentuk interaksi, otoritas, dan konflik. Sebagai contoh, apabila filsafat hukum lebih tertarik pada isu-isu mengenai pemerintahan formal dan hukum negara, filsafat sosial lebih pada isu-isu informal, semisal struktur sosial dari kelompok-kelompok sosial yang terbentuk secara sukarela, termasuk kekuasaan sosial dari seorang selebriti. Dengan demikian, kita dapat membandingkan kekuasaan hukum, yang dimiliki oleh seorang walikota, dengan kekuasaan sosial, yang dimiliki oleh pedagang kaki lima.
Filsafat sosial juga berhubungan dengan dinamika-dinamika kelompok dan cara-cara membentuk sebuah kelompok serta melakukan tindakan dalam kelompok tadi. Topik-topiknya mencakup mode pakaian, gaya hidup, kultus, kerumunan, dan sebagainya.
Filsafat sosial juga berhubungan dengan nilai-nilai sosial. Nilai-nilai sosial berhubungan dengan moralitas, khususnya teori moral yang mendefinisikan moralitas berdasarkan apa yang diharuskan dan dilarang oleh masyarakat. Sejalan dengan alasan ini, filsafat sosial dapat tumpang tindih dengan moralits dan nilai-nilai sosial.
Beberapa orang akan menunjukkan filsafat sosial pada filsafat masyarakat (the philosophy of society). Akan tetapi, hal ini akan mengaburkannya dengan bidang tertentu dari filosofi masyarakat tertentu.
Berbagai topik dalam filsafat sosial melintasi berbagai katagori filsafat, termasuk epistemologi, metafisika, filsafat politik, moralitas, dan sebagainya.
Tema-tema utama dalam filsafat sosial mencakup diri (self), entitas sosial, dan hubungan antara keduanya. Individualisme sering muncul dalam filsafat sosial, termasuk pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan pemisahan orang perseorangan dari masyarakat.
Filsafat sosial sering dicampurkan dengan sosiologi, antropologi kognitif, dan psikologi. Alasannya, karena bidang-bidang tersebut menyajikan penelitian dan percobaan atas hasil perenungan filosof sosial. Pembahasan atau teori tentang masyarakat seringkali mengandung unsur filsafat sosial, sekaligus unsur ilmu sosial.
Bagian-bagian utama filsafat sosial sering tumpang-tindih dengan filsafat politik, khususnya berkenaan dengan otoritas (kekuasaan), revolusi, kemakmuran, dan hak. Akan tetapi, filsafat sosial terutama berhubungan dengan bentuk-bentuk interaksi, otoritas, dan konflik. Sebagai contoh, apabila filsafat hukum lebih tertarik pada isu-isu mengenai pemerintahan formal dan hukum negara, filsafat sosial lebih pada isu-isu informal, semisal struktur sosial dari kelompok-kelompok sosial yang terbentuk secara sukarela, termasuk kekuasaan sosial dari seorang selebriti. Dengan demikian, kita dapat membandingkan kekuasaan hukum, yang dimiliki oleh seorang walikota, dengan kekuasaan sosial, yang dimiliki oleh pedagang kaki lima.
Filsafat sosial juga berhubungan dengan dinamika-dinamika kelompok dan cara-cara membentuk sebuah kelompok serta melakukan tindakan dalam kelompok tadi. Topik-topiknya mencakup mode pakaian, gaya hidup, kultus, kerumunan, dan sebagainya.
Filsafat sosial juga berhubungan dengan nilai-nilai sosial. Nilai-nilai sosial berhubungan dengan moralitas, khususnya teori moral yang mendefinisikan moralitas berdasarkan apa yang diharuskan dan dilarang oleh masyarakat. Sejalan dengan alasan ini, filsafat sosial dapat tumpang tindih dengan moralits dan nilai-nilai sosial.
Beberapa orang akan menunjukkan filsafat sosial pada filsafat masyarakat (the philosophy of society). Akan tetapi, hal ini akan mengaburkannya dengan bidang tertentu dari filosofi masyarakat tertentu.
Langganan:
Komentar (Atom)