Sabtu, 24 Oktober 2009

BEBERAPA ORANG MENYEBUT SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU

A. Metode Penelitian Ilmiah

Hampir tidak mungkin untuk menentukan kapan tepatnya metode penelitian ilmiah mulai berperan penting dan mendominasi sejarah perkembangan intelektual manusia. Berkenaan dengan pertanyaan ini, sebagian orang mungkin akan mengajukan beberapa nama semisal Copernicus, Galileo, Bacon, atau Newton. Sekalipun demikian, penyebutan tokoh-tokoh penting dalam perkembangan ilmu tersebut masih belum dapat dijadikan indikator “revolusi ilmiah”. Sehubungan dengan itu, dapat dikatakan bahwa pada dasarnya tidak pernah terjadi revolusi (perubahan mendadak) dalam sejarah perkembangan ilmu, kecuali suatu perubahan atau pencapaian berangsur-angsur yang dipercepat oleh ilmu ekonomi rasional pada masa reformasi Eropa.

Ilmu sebagai sebuah model penelitian semakin mantap dalam peradaban Barat sejalan dengan Revolusi Industri di Inggris sekitar abad kedelapan belas. Metode penelitian muncul dalam bentuk tertentu serta mendapatkan sambutan yang baik pada kebudayaan-kebudayaan lain selain Inggris. Pada beberapa segi aspek, prestisenya bersumber dari kelas-kelas sosial yang pertama kali meminatinya, yaitu kalangan bangsawan maupun kelas menengah. Selain itu, dalam banyak segi, prestisenya berasal dari sumbangan-sumbangannya, yaitu temuan-temuan ilmiah dianggap bermanfaat bagi kemajuan industri.

B. Fungsi Metode Ilmiah: Penjelasan dan Peramalan

Tujuan utama dari setiap ilmu adalah membuat penjelasan (explanation) dan peramalan (prediction). Yang dimaksud dengan meramalkan adalah kemampuan untuk mengantisipasi hasil-hasil tertentu. Antisipasi ini berkaitan dengan pengakuan akan adanya hubungan antar gejala. Artinya, jika gejala yang satu dapat diketahi, maka gejala yang lain akan dapat diramalkan, dan bahkan dikontrol. Sebagai contoh, kita dapat menyimpulkan bahwa di masa lampau jika menjelang musim penghujan maka orang-orang akan meminum air kopi panas. Tentu saja, contoh ini tidak benar. Tetapi, terlepas dari kekeliruannya, terlihat bahwa pengetahuan mengenai datangnya musim hujan memungkinkan kita untuk mengetahui tindakan orang-orang untuk minum air kopi panas. Dalam hal ini, kita sedang melakukan penalaran yang bersifat induktif berdasarkan pengamatan yang dilakukan secara berulangkali setiap mengamati datangnya musim hujan dan tindakan orang-orang untuk minum air kopi panas pada musim itu. Dengan demikian, seperti dinyatakan J. S. Mill, induksi adalah sebuah proses generalisasi yang berasal dari sejumlah pengamatan; atau, menurut rumusannya, “generalisasi dari pengalaman”. Perlu dicatat bahwa pada contoh di atas, nyatanya tidakmesti datangnya musim hujan serta-merta menentukan orang-orang untuk meminum air kopi panas.

Contoh lainnya menggunakan hasil penelitian aktual dalam disiplin sosiologi tentang hubungan antara komposisi keagamaan masyarakat dengan tingkat bunuh diri. Durkheim (1951) telah meramalkan bahwa masyarakat penganut Protestan akan memiliki tingkat bunuh diri lebih banyak dibandingkan dengan masyarakat penganut agama Katolik. Sekalipun Durkhein menjelaskannya secara hati-hati, iapun dapat meramalkannya tanpa harus menjelaskannya mengapa ramalan itu benar-benar terjadi, kecuali hanya sekedar merujuk pada pola pengelemompokkan selain penganutan atas agama tertentu. Dengan demikian, sebagaimana contoh tersebut, setiap penelitian perlu dilakukan secara hati-hati karena prediksi mungkin saja dilakukan tanpa harus menjelaskan. Sesuatu peramalan pada dasarnya berupa sebuah pernyataan tentang hasil yang mungkin terjadi. Dalam hal ini, sebuah hasil yang diduga akan terjadi dalam peluang tertentu, sebagai lawan dari selalu terjadi. Durkheim menyatakan bahwa angka bunuh diri secara agrgegat bukan pada tatanan individu-individu yang akan atau tidak akan melakukan bunuh diri.

Sebagai tambahan, ketika Durkheim berusaha menjawab pertanyaan “Mengapa?”, maka pada saat itu ia sedang menjelaskan. Ia, dalam hubungan ini, menjelaskan adanya perbedaan penekanan dan pencapaian tingkat integrasi struktur sosial pada para penganut Protestan dan Katolik, sehingga hal ini mempengaruhi keputusan anggota masing-masing kelompok dalam melakukan bunuh diri. Pada masyarakat-masyarakat Ktolik yang memiliki tingkat integritas kelompok sangat kuat, angka bunuh diri relatif lebih sedikit dibandingkan dengan masyarakat Protestan yang memiliki tingkat integritas sosial relatif lebih rendah. Durkheim tidak berbicara mengenai keberadaan atau ketidakberadaan bunuh diri, melainkan tingkat atau frekuensi bunuh diri, sehingga dengan demikian ia menjelaskan hubungan antara agama dengan bunuh diri. Ia mempunyai hubungan yang bersifat faktual, dan menarik kesimpulan berdasarkan hubungan tersebut: Mengapa hubungan itu terjadi? Penjelasan, dengan demikian, jawaban atas pertanyaan mengapa. Proses penyimpulan sebab-akibat (causal inference) akan dibahas lebih lanjut pada baba berikutnya. Di sini, cukuplah untuk mencatat bahwa penjelasan merupakan masalah pembuatan hubungan antar gejala sebagai sesuatu yang masuk akal. Jika kita menjelaskan beberapa kejadian dari sesuatu gejala, maka kita akan memprediksi kondisi kejadian dari gejala tadi di masa depan secara lebih baik, namun bukan dalam pengertian akan terjadi pada waktu dan tempat lain secara persisi. Yang terakhir akan selalu ditentukan oleh pengetahuan sebelumnya mengenai keberadaan sebab-akibat dari gejala yang sedang diamati. Kita mengetahui x, karena y, namun untuk mengetahui y secara tepat, kita harus mengidentifikasi keberadaan x.

Ilmu, sebagai salah satu bentuk penelitian intelektual manusia, berusaha menjelaskan, meramalkan, atau mengontrol gejala. Pengakuan atas sebab-sebab dari perilaku tertentu memberi kita kemungkinan untuk mengontrol perilaku yang bersangkutan, dalam arti bersiap-siap untuk mewaspadai keberadaannya di masa yang akan datang dengan cara mengubah kondisi-kondisi tertentu agar tidak terjadi atau malah menguatkan kondisi-kondisi tersebut agar benar-benar terjadi, baik sesekali atau selamanya. Apapun motifnya, tujuan dari pekerjaan para sosiolog adalah menjelaskan dan meramalkan, sehingga secara potensial hal itu akan memberi cara-cara untuk mengendalikan perilaku manusia agar lebih baik lagi di masa-masa yang akan datang.

C. Pemolaan dan Pengulangan Gejala

Jika penjelasan dan peramalan merupakan tujuan ilmu, maka jelaslah bahwa para ilmuwan mempunyai asumsi tentang gejala yang sedang mereka jelaskan dan ramalkan itu, baik gejal aitu berupa atom ataupun manusia. Hal ini mengisyaratkan asumsi dasar bahwa perilaku dari gejala-gejala tersebut memiliki pola tertentu. Jika gejala-gejala itu tidak mempunyai pola yang sistematis (tanpa tatanan, organisasi, atau hubungan sebab akibat), maka penjelasan dan peramalan tidak mungkin dapat dilakukan terhadapnya. Tanpa pola, gejala terjadi secara anarkis. Jika anarki terjadi, maka atom atau manusia bergerak tanpa aturan sama sekali. Hal ini akan menyulitkan penetapan hubungan antar beberapa gejala atau aspek-aspek tertentu dari sesuatu gejala. Dalam keadaan demikian, tidak ada kemungkinan untuk melakukan pemilahan dan pengorganisasian gejala. Tentu saja, penjelasan dpaat diberikan, namun penjelasan tersebut menjadi tidak logis. Hanya dengan pola itulah, gejala dapat dijelaskan dan diramalkan secara akurat.

Tanpa adanya pola atau tatanan dari gejala-gejala, maka tidak akan ada pengulangan. Sesuatu gejala yang hanya terjadi sekali saja tidak dapat dijadikan objek penjelasan yang teruji (verifiable explanation). Ini tidak dimaksudkan untuk menyangkal kemungkinan adanya peristiwa-peristiwa yang benar-benar unik. Akan tetapi, betapapun uniknya, tanpa kesamaan ciri dengan peristiwa lainnya pada kelompok yang sama, maka sesuatu onjek atau kejadian tidak dapat diramalkan atau dijelaskan secara ilmiah.

Beberapa ilmuwan kadang-kadang menghindari kata “sebab”, sebab konotasinya menunjuk pada determinisme, dalam arti bahwa sesuatu objek atau peristiwa tidak mempunyai sebab-sebab lain, kecuali sesuatu sebab yang telah ditetapkan oleh ilmuwan. Terlepas dari bagaimana kata itu diartikan, asumsi tentang gejala terpola secara universal dan berhubungan satu sama lain secara kausal merupakan ketetapan para ilmuwan. Fenomena berulang, dan berulang lagi, pada konteks hubungan yang sedang diteliti. Para ilmuwan fisika bekerja dengan hukum-hukum perilaku alam, seperti hubungan, massa, berat, dan kecepatan. Delapan ons apel pada genggaman tangan akan memberikan reaksi dengan cara yang dapat diramalkan jika dilemparkan ke dinding beton, seperti halnya ketika mobil menabrak dinding yang sama dengan kecepatan yang sama. Matahari akan selalu muncul kembali secara teratur dan memang terbukti melalui pengamatan kasat mata sehingga memungkinkan peramalan. Atas peri yang sama, orang akan melakukan pekerjaan pada waktu dan tempat tertentu, sehingga polisi seringkali dapat meramalkan kejahatan seseorang berdasarkan pola perilaku penjahat. Sikap agresif atau sikap lembut dapat dijelaskan dan diramalkan dengan cara memperhatikan kondisi-kondisi tertentu. Pola dan pengulangan perilaku itulah yang memungkinkan pelaksanaan metode penelitian yang disebut sebagai ilmu.

D. Reflikasi

Filsafat dan ilmu mempunyai mempunyai ciri penjelasan masing-masing, bahkan -- secara konseptual -- keduanya memiliki ciri peramalan yang berbeda berkenaan dengan perilaku gejala yang mereka amati. Seorang filosof atau orang awam dapat saja keliru ketika menjelaskan bebera ciri dari lingkungan mereka dan tidak harus mengemukakan tingkat kekeliruannya. Sebaliknya, ketika para ilmuwan melakukan penjelasan dan peramalan, ia terikat oleh keharusan untuk menetapkan kriterian dan tingkat kekeliruan yang mungkin timbul selama ia melakukan pekerjaannya. Ia tertarik dengan hubungan-hubungan dan penjelasan-penjelasan gejala yang telah teruji. Terlepas dari cara para ilmuwan menghimpun keterangan dan mengukur data yang diperlukannya, ia dituntut untuk selalu mengemukakan bahwa penejelasannya akan didasarkan pada pengamatan yang dilakukan secara berulangkali terhadap objek atau kejadian yang sedang ditelitinya. Dalam hal ini, ia melakukan replikasi (replication) – pengujian atau pengujian-pengujian ulang terhadap temuan-temuannya ataupun temuan-temuan yang telah dilakukan oleh ilmuwan lain. Ia akan menguji sejumlah hasil pengamatan. Temuan serupa akan diketahuinya lagi, karena mereka menyelidikinya pada kondisi-kondisi yang relatif sama. Gejala serupa dikaji ulang poleh para ilmuwan yang tidak saling mengenal, namun mereka mengamatinya dalam kondisi yang relatif serupa, sehingga – dengan cara itu – tercipta hasil-hasil pengamatan yang memberi jaminan keterpercayaan. Jika penetapan hubungan gejala didasarkan pada pengamatan seseorang atau beberapa orang saja, dan dilakukan dengan kondisi yang berbeda, maka hal itu tidak berhubungan dengan fakta ilmiah. Replikasi merupakan ciri khas penelitian ilmiah dalam memperoleh pengetahuan tertentu.

E. Kuantifikasi

Pengematan-pengamatan yang dilakukan oleh para ilmuwan pada abad ini benar-benar lebih tepat dibandingkan dengan pengamatan-pengamatan yang telah dilakukan oleh para ilmuwan pada abad-abad sebelumnya. Gejala diidentifikasi secara lebih hati-hati dan cermat, sehingga ciri-ciri dan hubungan-hubungannya dapat diidentifikasi ulang oleh para ilmuwan lain pada waktu dan tempat yang berbeda. Para ilmuwan tidak bergantung pada pola atau pengulangan gejala yang benar-benar unik dan menakjubkan, tetapi pada penampakan baku dari gejala yang bersangkutan.

Pembakuan dan konsekuensi keajegan relatif dikaitkan dengan proses kuantifikasi. Kuantifikasi, dalam pengertian yang paling sederhana, merujuk kepada proses penghitungan (peng-angka-an). Dalam hal ini, segala sesuatu diidentifikasi dan tiap waktu kejadiannya dicatat. Secara umum, kuantifikasi berarti penerapan nilai-nilai numerik pada gejala-gejala yang sedang diteliti. Terlepas dari apapun bentuknya, kuantifikasi memungkinkan penyederhanaan dan pengorganisasian terhadap hasil-hasil pengamatan, sehingga ciri-ciri dan hubungan-hubungan sesuatu objek atau kejadian yang memiliki kesamaan dapat dikelompokkan dan dibedakan dari objek atau kejadian lain yang memiliki ciri atau hubungan lainnya. Dalampengertian yang lebih luas, kuantifikasi memungkinkan para ilmuwan untuk mengabstraksikan realitas yang tampaknya sangat kacau menjadi sesuatu yang tampaknyatertata.

Dalam metode penelitian, para ilmuwan akrab dengan variabel. Sesuatu variabel adalah sesuatu item yang memiliki lebih dari satu nilai, seperti panas dan dingin atau hitam dan putih. Akan tetapi, dalam kenyataannya, para ilmuwan dapat mengidentifikasi beberapa nilai, tingkat panas-dinginnya atau derajat hitam-putihnya sesuatu objek. Semakin berkembang kuantifikasi, semakin cermat identifikasi terhadap nilai-nilai item tadi. Sebagai contoh, kita tidak lagi terpaku pada derjat panas atau dinginnya sesuatu gejala, tetapi lebih tertarik dengan ukuran suhu panas atau dingin dari gejala yang bersangkutan. Kuantifikasi memungkinkan ilmu untuk lebih mengkhususkan pada hubungan antar variabel, sehingga dengan demikian memungkinkan para ilmuwan untuk melakukan penjelasan dan peramalan atas gejala-gejala yang mereka amati.

F. Sosiologi Sebagai Ilmu

Sosiologi memiliki kesamaan dari asumsi-asumsi, tujuan-tujuan, dan prosedur-prosedur khas dalam ilmu ini. Sebagai ilmu yang empiris, sosiologi mencanangkan kuantifikasi sebagai cara yang akurat dalam mengidentifikasi aspek-aspek perilaku manusia agar semua itu dapat dijelaskan dan diramalkan.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Casino 2021 | Play at the Top Casino for Real Money!
in every Casino. Find out the games, 포커 룰 bonuses, payout 블랙잭 percentages & more! 토토 프로토 ✓ Casino players from around the world play at 로투스 바카라 Casino. 바카라 검증사이트